Wednesday, June 3, 2009

RSBI OKE ?


Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional ( RSBI )
Memang menyenangkan jika kita masuk sekolah yang sudah memiliki status RSBI apalagi SBI. Kelasnya pasti bagus, gurunya mengajar menggunakan media pembelajaran yang berbeda dengan kelas reguler. Proses belajar mengajar menyenangkan sebab siswa yang harus aktif, banyak menggunakan teknologi baik hardwarenya maupun softwarenya. Siswanya juga banyak yang “melek” Teknologi. Hal ini akan jauh berbeda jika kita lihat kelas biasa ( reguler ). Juga guru akan menggunakan dua bahasa.Bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Pasti siswa akan bangga sekali, sebab akan terbiasa menggunakan bahasa internasional.
Guru akan mengubah cara mengajar dari guru mengajar menjadi siswa belajar. Dari guru yang serba tahu menjadi guru yang menjadi teman belajar.
Siswa yang biasa pasif menjadi siswa yang sangat aktif. Dari siswa yang hanya menerima ilmu menjadi siswa yang akan mencari ilmu. Seolah - olah siswa menjadi “lapar” akan ilmu.
Pembelajaran yang biasa tanpa media pembelajarn menjadi pembelajaran yang penuh media pembelajaran. Pakai laptop, ada Hotspot, ada Internet, ada LCD. Guru sudah tidak pakai kapur lagi yang penuh polusi, atau pakai spidol.
Kelasnya tidak panas, ada AC minimal ada kipas yang menjadikan kelas sejuk. Wah… tentu membutuhkan biaya yang besar dong……..!
Dari mana biaya didapat?
Ya tentu dari orang tua atau wali murid. Ya namanya pendidikan sudah bertaraf internasional membutuhkan biaya besar, sementara dari pemerintah dana yang diberikan terbatas. Jadi solusinya pasti minta pada orang tua / wali murid.
Apakah orang tua sanggup?
Kalau ditanya sanggup apa tidak, pasti dah banyak yang jawab tidak. Makhlum yang namanya manusia tidak mau kehilangan uang, maunya yang serba gratis………..!
Tapi kalau sudah ada landasan hukum dari pemerintah, bahwa sekolah yang bertaraf internasional boleh minta sumbangan pada orang tua / wali murid, pasti semua akan jawab sanggup………………….!
Buktinya.
Sekolah – sekolah yang punya title RSBI apalagi SBI jadi rebutan para wali murid supaya anaknya dapat masuk ke sekolah tersebut. Nah kalau gitu orang tua / wali murid senang dan siap untuk menyumbang demi pendidikan anak – anaknya di sekolah RSBI / SBI.
Tapi bagi yang orang tuanya tidak cukup mapan alias gak punya kemampuan menyumbang atau tidak punya uang seperti saya ini, yah….cukup minta cerita aja sama teman – teman yang ada dikelas RSBI.
Dan ternyata setelah dapat cerita , saya pun tidak ingin masuk ke RSBI apalagi SBI. Selain biaya mahal, murid – murid dibebani pelajaran yang menurut saya berat sekali dah……..

Monday, June 1, 2009

SBI latahkah?



Sesungguhnya apa sih yang dimaksud dengan Sekolah Bertaraf Internasional (SBI)? Saya harap ini bukan semacam latah untuk menyampaikan pelajaran dalam bahasa Inggris (bhs Asing) tetapi lebih kepada standar pengajaran yang mengacu pada sistem internasional namun tidak menyimpang dari Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

SBI tidak hanya "menerjemahkan" pembelajaran di kelas menjadi bahasa Inggris!, Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) adalah Sekolah Nasional yang menyelenggarakan pendidikan berdasarkan Standar Nasional Pendidikan (SNP) serta memiliki keunggulan tertentu dalam bidang pendidikan sehingga memiliki daya saing di forum internasional.

Penyelenggaraan pendidikan yang dilaksanakan di Indonesia dari masa ke masa lebih banyak bersifat klasikal-masal, yaitu berorientasi kepada kuantitas untuk melayani sebanyak-banyaknya jumlah siswa. Kelemahan yang tampak dari penyelenggaraan pendidikan seperti ini adalah tidak terakomodasinya kebutuhan individual siswa di luar kelompok siswa normal. Padahal hakikat pendidikan adalah untuk memungkinkan peserta didik mengembangkan potensi kecerdasan secara optimal (Depdiknas, 2003 ).

Pembelajaran yang kita rasakan selama ini masih memberikan perlakuan dan layanan yang sama kepada semua siswa dalam satu kelas. Padahal dalam satu kelas siswa – siswi pasti memiliki kemampuan, kecakapan, dan kecerdasan yang berbeda. Sehingga strategi ini dirasakan tidak memberikan “ keadilan “ kepada siswa – siswa yang memiliki kemampuan , kecerdasan yang tinggi. Sebab mereka yang memiliki “kemampuan lebih” harus bersabar mengikuti siswa yang memiliki kemampuan “kurang”. Sehingga perlu bagi mereka yang memiliki kemampuan lebih ini berada pada kelas “ khusus”. Yakni kelas yang menerapkan pembelajaran sesuai Standar Nasional Pendidikan dan ditambah dengan penguatan, pendalaman maupun perluasan SNP sehingga memiliki kwalitas Nasional plus internasional.

Pembelajaran menjadi student center, bukan lagi teacher center. Artinya siswa menjadi pusat belajar, siswa paham tentang kenapa dia harus belajar, dan guru berperan sebagai "teman sejawat", sehingga di kelas yang banyak berbicara adalah siswa.

cursor:url("http://i49.tinypic.com/flvjtl.gif"),text cursor:url("http://i49.tinypic.com/flvjtl.gif"),text